Kamil, Kamal dan Sarung Kumal

                 (cerpen Ramadan ini pernah dan masih bisa dibaca di kompasiana.com/tamita_wibisono)

 Tinnnn…tinnnn…

suara klakson mengagetkan lelaki berusia senja yang tengah berjalan menyusuri jalan utama komplek perumahan elit di bilangan Jakarta Selatan.

Dari balik kemudi, Ramadan menghela nafas sembari berucap lirih,

“Hampir saja”.

Ya, mobil berwarna metalik itu nyaris menyerempet seorang kakek yang tengah berjalan. Setengah kaget dia menginjak rem dan membunyikan klakson. Selepas sang kakek menepi, Ramadan langsung tancap gas menuju rumah Kirani, kekasih hatinya. Dia tak ingin terlambat memenuhi undangan buka puasa di rumah perempuan yang dipacarinya sejak 7 lebaran lalu.

Sementara Sang Kakek, hanya bisa memandang mobil yang nyaris membuatnya celaka bergerak menjauhinya. Dia datang dari  pelosok Bogor. Sebuah desa di kaki gunung Salak. Sudah 1 bulan lelaki yang tak lagi muda itu seperti tengah mengembara di Jakarta. 

Sehari-hari lelaki yang selalu mengenakan sarung yang dililitkan di leher hingga menutupi sebagian dada dan bahunya. Ia  mencari pekerjaan apa saja sebagai cara bertahan hidup di ibukota dalam rangka mencari saudaranya. Menjadi kuli panggul di beberapa pasar induk pernah ia lakoni. Sesekali menjadi kuli serabutan. Apapun dia jalani selama yakin bergelora dalam hati.

Meski terbilang berusia senja, nyatanya lelaki yang kerap dipanggil Wak Kamal itu secara fisik cukup kuat. Ia mampu berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer. Sesekali jika Wak Kamal merasa capek, ia akan mencari masjid atau musholla untuk sekedar berteduh sembari menjalankan kewajiban kepada Tuhan semesta alam.. Hanya itu Yang membuat Wak Kamal senantiasa yakin, bahwa tujuannya ke Jakarta untuk mencari adik semata wayangnya akan berhasil.

Kamal dan Kamil, dua bersaudara yang terpisah puluhan tahun lamanya.  Lima tahun lalu, Kamil sempat pulang ke desa kelahiran mereka, membawa serta anak dan istrinya. Namun sayang Kamal tengah merantau di Kalimantan. Dua bersaudara itupun tak bertemu. Hanya dari omongan para tetangga yang menyebut bahwa Kamil telah sukses di Ibukota dan sempat datang ke rumah masa kecil mereka itulah yang Kamal dengar selepas dia pulang dari rantau tiga  bulan lalu.

Tekad bulat Wak Kamal pun muncul manakala ia mengingat satu peristiwa yang membuat Kamil pergi ke Jakarta, meninggalkan desa mereka tanpa dinyana sebelumnya. Darah muda membuat mereka tak sekedar berebut kembang desa. Sepotong sarung nyatanya mereka perebutkan pula. Sungguh menyesal Kamal memenangkan perebutan sarung yang hanya menjadikannya juara sesaat. Nyata ia harus menanggung kerinduan akibat kepergian saudaranya yang tampak begitu kecewa.

Sarung…, Ya hanya karena sebuah sarung, Kamal merasa bersalah terhadap Kamil. Karena sarung itu pulalah, Kamal sedikit nekat mencari Kamil tanpa alamat yang pasti.

“Kira-kira dimana Kamil dan keluarganya tinggal ya Jum?” Tanya Wak Kamal pada Jumarni pemilik warung kopi yang sempat disinggahi Kamil saat bertandang kembali ke desanya.

“Waduh Wak, saya lupa tanya, tapi saya dengar dari obrolan dengan kang Somad,kalo tidak salah  di Jakarta Selatan Ceu nah” logat medok Jumarni sedikit membuat lega Wak Kamal. Setidaknya ada noktah meski samar yang bisa menjadi petunjuk dimana Kamil berada.

Wak Kamal pun lantas pergi ke Jakarta. Beruntung, dia ditolong mahasiswa sewaktu berada di stasiun Bogor. Sehingga perjalanan Bogor-Jakarta, di stasiun pemberhentian terakhir Jakarta Kota pun dapat dengan mudah dilaluinya.

Apa daya, Wak Kamal buta wilayah Jakarta. Seminggu berada di Jakarta Kota, berkeliling mencari komplek rumah elit seperti yang dibicarakan tetangga bahwa Kamil tinggal di rumah gedong, nihil hasilnya.

Kamal tak putus asa. Dia selalu bertanya kesabaran kemari cara untuk menuju ke Jakarta Selatan. Selama bekal uang masih ada, Kamal tidak ragu untuk meminta tolong pada supir bajaj, atau supir mikrolet perihal tujuannya ke kompelk perumahan elit untuk mencari adiknya.

Namun apa hendak dikata. Jakarta dengan segala cerita membuat Kamal sedikit terlunta-lunta. Hanya sarung yang semakin Kumal saja yang membuat semangatnya tetap membara untuk terus mencari adiknya.

Situasi semakin sulit bagi Wak Kamal saat tiba-tiba banyak orang menutup mulut dan hidungnya dengan sejenis kain. Saat Wak Kamal menjadi kuli serabutan di pasar Palmerah, baru Wak Kamal tahu bahwa sekarang sedang musim virus Kirinya  yang banyak membuat orang menggunakan masker.

Pencarian Wak Kamal untuk menemukan Kamil adiknya terus berjalan. Hingga hampir sebulan lamanya. Tiba saat puasa, dan hati Wak Kamal yakin, bahwa sebentar lagi ia akan bertemu Kamil. Dari kawasan pasar Palmerah Wak Kamil mendapat informasi dari supir mikrolet bahwa ada komplek perumahan elit di Jakarta Selatan yang cukup terkenal. Wak Kamal pun girang. Ia tak ragu membayar lebih supir mikrolet yang mengeluh sepi penumpang akibat virus korona. 

Sampailah Wak Kamal di Pasar Kebayoran lama. Dari pasar Kebayoran lama itulah, langkah kaki Wak Kamal seperti dituntun menuju ke kawasan elit yang dimaksud. Hingga sore menjelang, ia tengah clingak cliguk memandang bangunan menjualnya di sekeliling rumah luas dengan pagar besi berukuran tinggi.

Klakson mobil tadi membuat Wak Kamal sejenak menepi. Mengusap sarung kumalnya. Memanggil nama adiknya 

“Kamil…Kamil..Kamil 7x” seraya merapal doa dengan segenap keyakinan.

Di bulan Ramadan, apalagi pada 10 hari terakhir, banyak doa konon diijabah. Apalagi doa penuh kebaikan seperti yang dilantunkan oleh seorang Kamal yang ingin bertemu Kamil, adik semata wayang yang telah terpisah puluhan tahun lamanya.

Wak Kamal kembali melanjutkan langkahnya. Ia bermaksud mencari masjid atau musholla.Sebentar Maghrib tiba. Tak lama dia berjalan, di sebuah perempatan tampak mobil yang tadi hendak menyerempetnya terparkir. Sedikit ramai suasana di depan rumah mewah itu. Kamal sedikit ragu untuk mendekat. Namun, beberapa supir ojek melambaikan tangan seolah memberi kode agar Kamal mendekat. 

Benar saja, pemilik rumah sedang membagi makanan dan minuman untuk berbuka. Wajah Kamal sedikit sumringah. Rejeki untuk berbuka, “Alhamdulillah”, ujarnya.

Namun kaget bukan kepalang saat sosok laki-laki gagah mengulurkan sekotak makanan dan botol minuman. Tangannya nyaris meleset menerima uluran dari pemilik rumah. Mata Kamal menyergir, mengamati lekuk wajah yang masih ia ingat.

“Kamil….kamu teh Kamil kan?” Suara Kamal bergetar, air matanya nyaris tumpah …ingin ia memeluk laki-laki yang diyakininya sebagai Kamil.

Tak kalah kaget, si pemilik nama langsung mengenali siapa yang ada di depannya,

“Itu sarung,  masih ada kang Kamal ??” Tuding Kamil menunjuk sarung Kumal yang menjuntai di badan Kamal.

Mereka pun berpelukan, dua bersaudara akhirnya dipertemukan Tuhan saat Ramadan, berkat semangat dari sarung Kumal.

Kumandang suara adzan tanda berbuka puasa seolah menjadi back song sepenggal episode drama kehidupan. Bertemu kembalinya dua bersaudara yang berpisah karena rebutan sarung. Namun akhirnya kembali bertemu karena sarung yang telah kumal itu pula .

Tinggalkan komentar